Showing posts with label Kisah Isa Al-Masih. Show all posts
Showing posts with label Kisah Isa Al-Masih. Show all posts

Benarkah Nabi Isa Akan Turun Ke Dunia ?

>> Wednesday, January 6, 2010


Saya sekarang sedang bekerja di Saudi Arabia dan mempunyai seorang teman yang beragama Kristen. Kadang-kadang kami berbicara tentang agama dan suatu hari kami mempunyai topik “nabi Isa akan kembali” apakah benar nabi Isa akan kembali dihari pembalasan, kalau memang benar dia akan kembali apa yang akan dilakukannya dan mengapa bukan nabi Muhammad yag kembali pada hari itu?

Alhamdulillahi Robbil ‘aalamin washollatu wassalamu ‘alaa Rasulillah wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajmain wa ba’du:



Akhi fillah, sudah menjadi keyakinan kaum muslimin terutama ahli sunah wal jama’ah bahwa diantara tanda-tanda terbesar menjelang hari kiamat bahwa Allah akan Menurunkan kembali Nabi Isa alaihi wasallam kedunia berdasarkan Al Qur’an, Hadits-hadits yang mutawatir serta ijma ulama muslimin, dan hal ini termasuk yang harus diyakini setiap muslim.



Diantara dalil-dalil yang menunjukkan turunnya kembali Nabi Isa alaihi wasallam adalah :



Al Qur’an , Ada tiga nas dari Al Quran yang menunjukkan turunnya Nabi Isa ‘alaihi wasallam :

1- Firman Allah Ta’alaa:

قوله تعالى : { وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ }



Artinya :61. Dan Sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus.[ Az Zukhruf : 61 ]

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Hakim dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu dalam menafsirkan ayat diatas beliau berkata : itu adalah keluarnya Isa bin Maryam alaihi salam sebelum hari kiamat.

Hadits dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya (4/329) no: 2921, berkata Ahmad Syakir rahimahullah : sanadnya shahih.
Dan Al Hakim dalam Mustadraknya (2/254) dan beliau berkata : sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan Syaikhain dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

2- Firman Allah Ta’alaa :



قوله تعالى : { فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا }


Artinya :4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. [ Muhammad :4 ].

Imam Al Baghawi rahimahullah berkata : makna ayat adalah : kalahkan kaum musyrikin dengan membunuh mereka atau menawan sampai seluruh manusia mengikuti ajaran islam, dan agama seluruhnya milik Allah, sehingga tidak ada jihad dan perang setelah itu, yaitu ketika Nabi Isa alaihisalam turun. [Tafsir Al Baghawi 4/179]

3- Firman Allah Ta’alaa :



قوله تعالى : { وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا } (4) .


Artinya : 159. Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya[380]. dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.[ An Nisa’ : 159 ]

Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Isa alaihisalam. [ Tafsir Thabari (6/21), Tafsir Baghawi (1/497), Tafsir Ibnu Katsir (1/577) ].

Hadits .Diantaranya adalah :

1- Hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata :


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « والذي نفسي بيده ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكما عدلا ، فيكسر الصليب ، ويقتل الخنزير ، ويضع الجزية ، لا يقبلها من كافر ، ويفيض المال حتى لا يقبله أحد ، حتى تكون السجدة الواحدة خير من الدنيا وما فيها »
ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : اقرأوا إن شئتم : { وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا }


Artinya : Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : demi yang jiwaku ditanganNya sungguh hampir saja turun kepada kalian Isa bin Maryam sebagai Hakim yang Adil, Dia mematahkan salib, dan membunuh babi, dan meletakkan Jizyah, tidak menerimanya dari orang kafir, datang harta yang banyak namun tidak ada seorangpun yang mau menerimanya, sehingga satu sujud lebih baik dari dunia seisinya, kemudian Abu Hurairah berkata : jika kalian mau bacalah ayat Allah : (( Tidak seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya, dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka)).


Hadits dikeluarkan Imam Bukhari dalam shahihnya : Kitabul Anbiya ( 4/143 ) dan Imam Muslim dalam shahihnya : Kitabul Iman (1/135).

2- Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu berkata :



سمعت النبي صلى الله عليه وسلم : « " لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة " ، قال : " فينزل عيسى ابن مريم عليه السلام فيقول أميرهم : تعال صل لنا ، فيقول : لا ، إن بعضكم على بعض أمراء ، تكرمة الله لهذه الأمة » (3) .


Artinya : aku mendengar Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : <<>>

Hadits dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman (1/137).

3- Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu :



أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « الأنبياء إخوة لعلات (1) أمهاتهم شتى ودينهم واحد ، وإني أولى الناس بعيسى ابن مريم ؛ لأنه لم يكن بيني وبينه نبي ، وإنه نازل ، فإذا رأيتموه فاعرفوه : رجل مربوع إلى الحمرة والبياض ، عليه ثوبان ممصران (2) ، كأن رأسه يقطر ، وإن لم يصبه بلل ، فيدق الصليب ، ويقتل الخنزير ، ويضع الجزية ، ويدعو الناس إلى الإسلام ، ويهلك الله في زمانه الملل كلها إلا الإسلام ، ويهلك الله في زمانه المسيح الدجال ، ثم تقع الأمنة على الأرض ، حتى ترتع الأسود مع الإبل ، والنمار مع البقر ، والذئاب مع الغنم ، ويلعب الصبيان بالحيات لا تضرهم ، فيمكث أربعين سنة ، ثم يتوفى ، ويصلي عليه المسلمون »


Artinya : bahwa Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : <<>>

Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad (2/406) dan Ahmad Syakir berkata : hadits shahih, dan Abu Dawud: Kitabul Malahim, bab Khuruju Dajjal (4/498). Al Hakim (2/595), dan beliau berkata: ini hadits yang sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan Syaikhain dan disepakati oleh Adz Dzahabi.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam : An Nihayah Fil Fitan Wal Malahim(1/188) : ini sanad yang bagus dan kuat.

Dan masih banyak lagi hadits yang menunjukkan turunnya Nabi Isa alaihisalam diakhir zaman, diantaranya menjelaskan bahwa beliau seorang yang sedang perawakannya, keriting rambutnya, kemerah-merahan kulitnya, mirip dengan sahabat Urwah bin Mas’ud radhiallahu anhu, turun di Syam, tepatnya menara putih sebelah timur Masjid Jami’ Umawiy, kota Damasqus, diwaktu menjelang didirikan sholat subuh sebagaimana juga dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam An Nihayah fil Fitan wal Malahim (1/192).

Ijma’

Telah bersepakat umat akan turunnya Nabi Isa diakhir zaman sebagaimana As Safarini rahimahullah berkata :
<<>> [ Lawami’ul Anwaril Bahiyah : (1/94-95) ].

Adapun kejadian yang berlaku dizaman beliau alaihisalam adalah :

1- Membunuh Masih Dajjal yaitu ketika melihat beliau dia meleleh seperti garam meleleh dalam air lalu beliau membunuhnya di Baitul Maqdis yang diikuti oleh tujuh puluh ribu orang yahudi yang semuanya berhasih dibunuh oleh Nabi Isa dan kaum muslimin.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiallahu anhu [Hadits dikeluarkan Ibnu Majah dalam sunannya : Kitabul Fitan (2/1361), dan Al Hakim dalam Mustadraknya (4/436), dan beliau berkata : ini hadits yang shahih sesuai syarat Imam Muslim namun tidak dikeluarkan Syaikhain, dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

2- Hancurnya Ya’juj dan Ma’juj berkat doanya Nabi Isa alaihisalam.



3- Menghilangkan seluruh syariat dan menghukumi manusia dengan syariat Muhammad shallawahu alaihi wasallam, ini menunjukkan kalau beliau sebagai pengikut Nabi Muhammad shallawahu alaihi wasallam sebagaimana para nabi yang lain seandainya mereka hidup dizaman Nabi Muhammad maka harus mengikuti beliau. Oleh karena itu beliau mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah, yakni tidak diterima dari mereka kecuali islam atau dibunuh.



4- Tersebarnya rasa aman dan tenteram, serta tidak adanya permusuhan, tersebarnya keberkahan dibumi, bahkan Allah mencabut racun yang ada pada ular sehingga tidak membahayakan anak-anak.

Adapun kenapa Nabi Isa alaihisalam bukannya Nabi Muhammad shallawahu alaihi wasallam yang turun kebumi, maka jawabannya dapat kita temukan dalam pernyataan beberapa ulama.

1- Sebagai bantahan atas orang-orang yahudi yang mengaku telah membunuh Nabi Isa alaihisalam, maka Allah Berkehendak menjelaskan kedustaan mereka, bahkan beliaulah yang akan membunuh mereka serta pemimpin mereka yaitu Dajjal, pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah.[ Fathul Bari :6/493 ].

2- Bahwa Nabi Isa alaihisalam menemukan dalam Injil keutamaan umat Muhammad shallawahu alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam Al Quran ( surat Al Fath: 29 ) maka Beliau berdoa kepada Allah untuk Menjadikannya kedalam golongan mereka, maka Allah Mengkabulkan doanya dan menghidupkannya sampai turun diakhir zaman untuk memperbaharui ajaran islam yang telah lenyap yaitu ajaran Muhammad shallawahu alaihi wasallam, maka bertepatan dengan keluarnya Dajjal lalu beliau membunuhnya. [ At Tadzkirah Imam Qurtubi : 2/794 ].



3- Bahwa turunnya Nabi Isa alaihisalam dari langit menunjukkan dekatnya ajal beliau sehingga dimakamkan dibumi, karena makhluk berasal dari tanah dan sepantasnya untuk meninggal dibumi. [ At Tadzkirah Imam Qurtubi : 2/795 ].



4- Bahwa turunnya Beliau untuk membantah orang-orang Nashrani sehingga Beliau menampakkan kebatilan mereka, yaitu dengan melenyapkan seluruh ajaran kecuali islam dengan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah.



wallahi a'lam bishowab

Read more...

Kedudukan Jesus Kristus Dalam Islam (3) – Ketinggian Yesus di dalam Islam

>> Monday, December 14, 2009


Sesungguhnya nabi yang mulia ini mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam yang tidak diketahui atau pura-pura tidak diketahui oleh umat Yahudi dan Kristiani di dalam realitas, keyakinan dan tulisan-tulisan mereka.

Islam melakukan hal tersebut dan menetapkannya dengan ketetapan yang paling utama, paling mulia dan paling obyektif di dalam banyak ayat yang mulia. Akal yang sehat akan menerima ketetapan Islam saja dan akan menolak apa yang ditetapkan oleh orang-orang Yahudi berupa tuduhan dan celaan terhadap beliau, serta apa yang ditetapkan oleh orang-orang Kristen berupa perbuatan melampaui batas dan menuhankan beliau; terkadang mengatakan sebagai anak Allah, terkadang menyebutkan sebagai Allah atau satu di antara yang tiga (trinitas) dan terkadang meremehkan dan menghinakan beliau, yang menunjukkan atas kebingungan dan kesesatan agama dan akal mereka.



Sungguh Allah telah menceritakan dengan kisah yang indah nan mempesona tentang ‘Isa (Yesus) dan ibu beliau dari awal kehidupan beliau berdua diikuti dengan kisah tentang fase-fase kehidupan beliau berdua dengan sangat jelas dan penuh dengan penghormatan. Maka orang-orang yang beriman dari para pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengimani hal tersebut dan menghormati dan memuliakan beliau dengan penghormatan dan pemuliaan yang sesungguhnya sebagaimana mereka menghormati dan beriman kepada para nabi dan rasul lainnya.



Lebih dari itu, Islam bahkan menetapkan bahwa beriman kepada mereka adalah merupakan satu rukun yang besar dari rukun-rukun Islam. Barangsiapa menghina salah seorang dari mereka, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Maka bagaimana dengan orang yang mendustakan mereka atau salah seorang dari mereka?



Sungguh Allah telah menyanjung ‘Isa dan ibunya yaitu Maryam (Maria) yang suci dalam banyak surat dari Al Qur’an. Kami akan sebutkan sebagiannya, di antaranya Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam surat Ali ‘Imran:



إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ *ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ *إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ *فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ *فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ *هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ


“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (Ali Imran: 33-38)



Maka Allah memulai kisah Maryam dengan ikatan yang besar yaitu dengan orang-orang yang dipilih oleh Allah melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Di antara mereka adalah keluarga ‘Imran nenek moyang Maryam. Ikatan ini adalah untuk menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia dan berasal dari keturunan para nabi pilihan. Ibunya adalah wanita yang saleh.



Di antara bentuk kesalehannya adalah dia bernazar kepada Allah (agar) anak yang dalam kandungannya menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di baitul Maqdis. Dia berkeinginan agar anaknya laki-laki, ternyata yang dilahirkan adalah anak perempuan. Maka diapun mengembalikan urusannya kepada Allah dengan mengemukakan alasan kepada-Nya memintakan perlindungan untuk putri dari keturunannya dari syaitan yang terkutuk maka Allah mengabulkan doanya, menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan menjadikan nabi yang mulia dan penyayang yaitu Zakariya ‘alaihissalam sebagai pemeliharanya. Ini adalah penjagaan yang agung dan sebutan yang mulia untuk ibunda ‘Isa.



Allah menambahkan keutamaan dan kemuliaan kepada Maryam. Hal itu disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan firmannya:



وَإِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ *يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ * ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali Imran: 42-44)



Maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam -nabi yang tidak bisa membaca tulisan- juga kaum beliau tidaklah mengetahui tentang berita agung dan benar mengenai seluruh para nabi; tidak juga tentang Maryam dan ibunya, Zakariya dan orang yang bersengketa di dalam memelihara Maryam. Juga tentang kemenangan Zakariya untuk memelihara Maryam setelah diadakan undian dengan anak-anak panah. Juga tentang penghormatan yang diberikan Zakariya kepadanya, serta tentang datangnya rizki dari Allah untuk Maryam sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya yang mendorong Zakariya – dalam keadaan usia tua dan mandul istrinya – untuk memohon keturunan yang baik dari Allah; Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum beliau tidak mengetahui hal ini.



Dan tidak mungkin Anda dapati perkataan yang tinggi dengan keagungan, kefasihan, susunan yang baik dan penyampaian yang menarik seperti ini di dalam Injil dan lainnya. Hal ini menunjukkan tentang kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah benar-benar utusan Allah, tiadalah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya; ucapannya tidak lain kecuali wahyu yang diwahyukan kepada beliau dari Rabb semesta alam.



Kemudian Allah melanjutkan kisah Maryam yang suci dan puteranya yaitu ‘Isa hamba dan rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala nabiyyina wa saairi al-anbiya’ wa sallama tasliman katsira dengan firmannya:



إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ *وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلا وَمِنَ الصَّالِحِينَ *قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ *وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ *وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ وَالأبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلأحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ *إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ


(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan Dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (Ali Imran: 45-51)



Inilah kisah tentang awal urusan ‘Isa ‘alaihissalam, cara Allah menciptakannya, tentang risalahnya kepada bani Isra’il, kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya berupa karakteristik agung yang menunjukkan kebenaran risalahnya dan juga tentang berlepasnya dia dan ibunya dari tuduhan keji orang-orang Yahudi. Apabila merupakan ketentuan Allah yang berlaku di kalangan makhluk dari kalangan manusia dan binatang; bahwa sempurnanya reproduksi adalah melalui jalan dua orang tua laki-laki dan perempuan, maka sesungguhnya telah mendahului yang demikian bahwasanya Allah telah menciptakan Adam dari tanah dengan tanpa dua orang tua dan telah menciptakan ibunya manusia yaitu Hawa dari tulang rusuk Adam.



Itu semua adalah merupakan ayat-ayat Allah yang agung dan tidak ada sesuatu pun yang bisa melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan di langit. Demikian pula di zaman ini dari umur manusia, Allah berkehendak untuk memperlihatkan satu ayat baru dari ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran kekuasaan-Nya; yaitu menciptakan ‘Isa ‘alaihissalam dari seorang perempuan tanpa laki-laki. Sungguh Maryam ‘alaihissalam merasa heran dengan perkara yang aneh dan berita yang asing ini. Maka malaikat Jibril berkata kepadanya:



كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia.”



Maka setiap makhluk yang besar maupun yang kecil; ‘arsy, kursi, langit, bumi, gunung, lautan dengan isinya, makrocosmos berupa matahari, bulan dan bintang semuanya terjadi dengan keinginan dan kehendak Allah serta dengan firman-Nya: kun (jadilah). Maka Maha Suci Rabb yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Berkuasa tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkan dan mengungguli kekuasaan-Nya serta tidak ada sedikitpun sekuru dalam kekuasaan-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.



Sesungguhnya kemuliaan yang diberikan Allah kepada ‘Isa ‘alaihissalam berupa ilmu, hikmah, risalah dan ayat-ayat yang agung adalah merupakan kemuliaan yang diberikan kepada seluruh para nabi dan rasul, sedangkan keadaan ‘Isa dicipta dengan firman Allah: kun (jadilah) dari seorang perempuan saja adalah termasuk ayat-ayat-Nya yang menunjukkan akan kemampuan-Nya yang telah didahului dengan perkara yang lebih besar lagi yaitu diciptakannya Adam ‘alaihissalam tanpa laki-laki dan perempuan dan diciptakannya Hawa dari tulang rusuk Adam tanpa adanya Perempuan.



Semua itu menunjukkan atas Maha Besarnya Allah dan Maha Mampu-Nya menurut kaum mu’minin yang berakal serta mendorong mereka untuk bersyukur kepada Allah, mencintai, mengagungkan, mensucikan, dan mengikhlaskan ibadah serta agama hanya untuk-Nya saja. Orang yang paling tahu tentang masalah ini, yang melaksanakan, dan mendakwahkannya adalah para nabi yang mulia yang ditokohi oleh ulul ‘azmi di antaranya adalah ‘Isa – ‘alaihim jami’an afdhalu ash-shalawat wa atammu at-taslim – sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan (dijelaskan juga) sebelumnya di dalam wahyu yang terjaga sebelum adanya perubahan dari nash-nash Injil; ‘Isa telah menerangkan bahwa dia adalah hamba Allah yang diciptakan dan dipelihara, dan sesungguhnya Allah adalah Rabb-nya, sayyidnya, Penciptanya, Rabb seluruh makhluk, Sayyid dan Penguasa mereka. Pertama kali ‘Isa menetapkan ini semua kemudian menyeru mereka untuk beribadah kepada Rabb yang Maha Agung, Sayyid, Pencipta segala sesuatu dan Penguasa segala sesuatu. ‘Isa ‘alaihissalam berkata:



إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”



Sebelumnya dia mengatakan:


فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ


“Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”



Maka Allah sajalah yang ditakuti dan disegani, dan para nabi, di antaranya ‘Isa menyeru kepada hal ini, mereka ditolong oleh Allah dengan ayat-ayat berupa mu’jizat yang jelas dan bukti-bukti tentang kebenaran mereka. Maka tidak ada kewajiban bagi manusia setelah keterangan ini kecuali harus menyambut dakwah para rasul dan mentaati apa yang mereka sampaikan dari Allah berupa wahyu yang berisi perintah untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.



Pelajaran yang diambil dari nash-nash ini adalah bahwa ‘Isa ‘alaihissalam dan para nabi lainnya memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam. Dalam nash-nash tersebut juga terdapat pelajaran tentang penciptaan ‘Isa dan ibunya yang berada di atas puncak kesucian dan berasal dari keluarga yang sangat kokoh di dalam Islam dan kesucian. Di dalam nash-nash tersebut juga disebutkan tentang risalah, ayat-ayat dan dakwah beliau untuk beriman dengan rububiyyah Allah, beribadah, takut, dan bertakwa kepada-Nya. Sebagaimana Allah menceritakan tentang Adam dan seluruh para rasul, perjalanan hidup, akhlak dan dakwah mereka – ‘alaihissalam –; merupakan berita yang benar tidak ada padanya takhayul dan ghuluw (melampaui batas). Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau beriman, mencintai, menghormati, dan memuliakan para nabi – di antaranya adalah ‘Isa ‘alaihissalam – dari dalam relung hati mereka. Dan menganggapnya sebagai pokok ajaran agama mereka.



آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ


Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah: 285)



-bersambung ke bagian 4-



(Silakan disebarluaskan untuk kepentingan dakwah Islam kepada umat manusia seluruhnya dengan mencantumkan URL: www.ulamasunnah.wordpress.com).

Read more...

Kedudukan Jesus Kristus Dalam Islam (2) – Muqaddimah Penulis


Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah atas Rasulullah, keluarga, para shahabat serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau.

Amma ba’du:
Seluruh umat telah sepakat bahwa Allah-lah yang menciptakan alam semesta ini; baik langit, bumi, apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di dalamnya baik malaikat, jin maupun manusia.



Dia-lah yang mengatur alam semesta ini dan menatanya. Segala sesuatu tunduk terhadap kehendak dan kekuasaan-Nya. Walaupun demikian, Allah memeliharanya dengan kelembutan, kasih sayang dan hikmah-Nya.



Dia memberi kewajiban kepada orang yang berakal untuk menyembah dan taat terhadap perintah-Nya, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala:



وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidaklah aku menghendaki agar mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz Dzariyaat: 56-58)



Dia juga membekali mereka dengan segala sesuatu yang bisa membantu mereka dalam melaksanakan beban (ibadah) ini berupa fitrah yang sehat, akal yang bisa untuk berpikir dan menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi.



Lalu Dia mengutus kepada mereka para rasul yang mulia tatkala syaithan dan sekutunya membelokkan manusia dari tujuan diciptakannya manusia (yaitu menyembah/beribadah hanya kepada Allah semata) kepada syirik, beribadah kepada syaithan dan keluar dari jalan Allah yang lurus.



Sebagai tokoh dari para rasul yang mulia tersebut adalah orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (ulul ‘azmi) dari para rasul yaitu: Muhammad, Ibrahim, Musa, ‘Isa dan Nuh ‘alaihim ash-shalatu wa akramu at-taslim.



Allah subhanahu wata’ala berfirman:



شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ


“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy Syura: 13)



Maka seluruh rasul dengan dipimpin oleh para rasul tersebut di atas agama mereka hanyalah Islam tidak ada agama yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:



إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)



Allah subhanahu wata’ala berfirman:



وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)



Allah subhanahu wata’ala berfirman:



يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ * وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya ummah ini, adalah ummah kamu semua, ummah (agama) yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al Mu’minun: 51-52)



Yang dimaksud dengan kata “ummah” disini adalah agama. Maka agama mereka adalah satu yaitu Islam yang mengandung pengikhlasan agama untuk Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal dan hanya Dia yang berhak untuk disembah.



Seluruh makhluk adalah hamba-Nya, di antara mereka adalah para rasul yang mulia, dan di antara mereka adalah ulul ‘azmi yaitu Muhammad, Ibrahim, Musa, ‘Isa dan Nuh. Mereka semua adalah hamba-Nya yang dicipta untuk beribadah kepada-Nya dan menyeru manusia kepada ajaran tersebut. Dialah Rabb Yang Maha Pencipta dan yang disembah, tidak ada sesuatu pun yang memiliki andil dalam seluruh ciptaan-Nya sebesar biji atom pun dari alam semesta ini; tidak di dalam penciptaan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dan tidak pula di dalam perkara-perkara yang Dia menyendiri dengannya seperti sifat Rububiyyah, Uluhiyyah dan sifat keluhuran serta keagungan-Nya.



قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَد ُ *لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ *
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada memiliki anak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al Ikhlas: 1-4)



Dan yang dimaksud setelah pembukaan ini adalah menjelaskan tentang kedudukan Rasulullah yang mulia ‘Isa bin Maryam ‘alaihis shalatu wa salam dan kedudukannya di dalam Islam.



-bersambung ke bagian 3-



(Silakan disebarluaskan untuk kepentingan dakwah Islam kepada umat manusia seluruhnya dengan mencantumkan URL: www.ulamasunnah.wordpress.com).

Read more...

Kedudukan Jesus Kristus Dalam Islam (1) – Pengantar Redaksi


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.



Risalah berikut merupakan terjemahan dari sebuah esai yang berjudul “Makanatu ‘Isa ‘alaihissalam fil Islam” (Kedudukan Isa/Jesus/Yesus ‘alahissalam di Dalam Islam) yang ditulis oleh Asy Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali (semoga Allah senantiasa menjaga beliau) yang bisa didownload dari berbagai situs, di antaranya dari:



• http://www.sd-sunnah.com/vb/showthread.php?t=1681



Tujuan kami menyebarkannya terjemahan esai ini melalui blog ulama sunnah (www.ulamasunnah.wordpress.com) adalah untuk menjelaskan sikap Islam terhadap figur Yesus atau yang dalam Islam dikenal dengan Nabi Isa ‘alaihissalam.



Sesungguhnya Islam telah berada pada posisi pertengahan dalam mendudukkan Nabi Isa ‘alaihissalam. Berada di tengah-tengah, di antara orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen/Nashrani menganggap Nabi Isa sebagai anak Tuhan -bahkan Tuhan itu sendiri- dan menjadi salah satu bagian dari trinitas. Ini adalah sebuah sikap yang berlebih-lebihan. Adapun Yahudi, begitu merendahkan Nabi Isa ‘alaihissalam dengan tidak mengakuinya sebagai Nabi, bahkan menuduh beliau sebagai anak zina. Adapun Islam, mendudukkan Nabi Isa, sebagaimana Allah Tuhan Semesta Alam memberikan kedudukan kepada beliau sebagai hamba dan Rasul-Nya yang mulia.



Kedudukan inilah yang ingin dibahas secara panjang lebar di dalam esai ini. Dengan membawakan dalil-dalil dari kitab suci Al Qur’an, diharapkan risalah ini bisa memberikan gambaran sikap Islam terhadap kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam.



Adapun tentang penulis essai ini, beliau adalah Asy Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, salah seorang ulama di kota Madinah, Kerajaan Saudi Arabia. Beliau adalah salah seorang dosen di Universitas Islam Madinah, bahkan pernah menjabat sebagai ketua jurusan hadits di sana. Kini beliau telah pensiun dan berdomisili di kota Mekah, Kerajaan Saudi Arabia.



Beliau telah menulis banyak karya, di antaranya berjudul:



1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni (Di Antara Dua Imam: Muslim dan Ad Daruquthni), sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih gelar master.



2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktoral beliau.



3. Tahqiq Kitab Al Madkhal ila AshShahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.



4. Tahqiq Kitab At Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.



5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.



Serta masih banyak karya tulis lainnya yang bisa dirujuk kepada situs beliau www.rabee.net.



Demikian sedikit pengantar dari kami, selanjutnya kami persilakan Anda untuk membaca dan menelaah uraian dari Asy Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berikut.



Wallahu waliyyut taufiq.

Read more...

Kisah Kelahiran Al-Masih Di Dalam Surah Maryam

>> Saturday, November 7, 2009

Kehamilan Maryam


Allah s.w.t. telah mengutuskan Malaikat Jibril untuk memberi khabar gembira kepada Maryam bahawa beliau akan melahirkan seorang anak lelaki. Kisah tersebut telah dipaparkan di dalam Surah Maryam melalui uslub dialog di antara Maryam dan Jibril.

Firman Allah s.w.t.:

“Jibril berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberitahu kepadamu tentang seorang anak lelaki yang suci."
(Surah Maryam:19)

Maryam yang merupakan seorang wanita yang solehah merasa hairan dan kebingungan, mengapa dengan tiba-tiba dia dikhabarkan oleh Jibril akan kelahiran seorang anak lelaki? Bagaimanakah perkara ini harus berlaku? Sedangkan dia tidak pernah disentuh oleh seorang lelaki pun, apatah lagi untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji yang lain? Lalu Maryam brtanya bagi memecahkan kebuntuan yang berada dalam fikirannya:

“Maryam berkata: ‘Bagaimana aku dapat melahirkan seorang anak lelaki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun menyentuh aku dan aku bukannya seorang pezina" 
(Surah Maryam; 20)

Lalu Jibril menjawab bagi merungkaikan ikatan keserabutan yang menyala-nyala di dalam kepala Maryam dan sekaligus menjadikan Maryam sebagai manusia pilihan yang mendapat rahmat:

“Jibril berkata: ‘Demikianlah Tuhanmu berfirman: Perkara tersebut amatlah mudah bagi-Ku dan agar dapat Kami jadikan suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat daripada Kami dan hal itu adalah suatu perkara yang telah diputuskan.” 
(Surah Maryam: 21)

Kelahiran ‘Isa a.s.

Kejadian Nabi ‘Isa a.s. adalah berbeza dengan kejadian segala manusia yang ada di atas dunia. Dia dilahirkan tanpa bapa dan oleh kerana proses kejadiannya lain daripada manusia yang lain, sudah tentu proses kematiannya juga adalah lain daripada manusia yang lain.

Firman Allah s.w.t.:

“Maka (Maryam) merasa sakit untuk melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai! Alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi barang yang tidak bererti lagi dilupakan’.” 
(Surah Maryam: 23)

Maryam merasa sakit yang amat sangat ketika hendak melahirkan Isa a.s. sehingga dia merasakan lebih baik mati sahaja daripada menanggung derita melahirkan kandungan tersebut tetapi keresahan itu telah ditenteramkan oleh Jibril a.s. yang menyeru dari jauh.

Firman Allah s.w.t.:

“Maka Jibril menyeru ke arahnya dari tempat yang rendah: ‘Jangan kamu bermuram durja, sesungguhnya Tuhanmu menjadikan anak sungai di bawahmu dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, nescaya pohon tersebut akan menggugurkan buah yang mekar kepadamu.” 
(Surah Maryam:24-25)

Suatu hakikat yang telah disempurnakan! Kalau diikutkan kepada logik akal, tidak mungkin sekali buah kurma yang mekar seperti ayat di atas sebagai “ruthab” boleh gugur dengan digoncang, sedangkan kalau dibiar buahnya masak ranum pun ia tidak akan gugur. Ini adalah suatu hikmat yang dikurniakan oleh Allah kepada Maryam dan mengikut pakar perubatan, buah kurma yang mekar boleh memudahkan si ibu melahirkan anak dengan baik.

Dan di dalam sepotong ayat yang lain pula, Allah s.w.t. telah berfirman:

“Maka makan dan minumlah serta bersenang hatilah kamu, jika kamu melihat seorang manusia maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” 
(Surah Maryam: 26)

Untuk mengelakkan diri daripada difitnah oleh kaumnya, Allah s.w.t. telah memerintahkan kepada Maryam supaya bernazar dengan melakukan ibadat puasa dan tidak bercakap-cakap dengan sesiapa pun pada hari tersebut.

Isa a.s. Mempertahankan Kehormatan Ibunya

Apabila Nabi Allah ‘Isa a.s. dilahirkan oleh ibunya Maryam, kelahirannya itu telah mencetuskan reaksi yang kontroversi di kalangan kaumnya. Pelbagai andaian dan spekulasi yng dilemparkan kepada Maryam sehingga di kalangan kaumnya ada yang tergamak menuduh beliau melakukan perbuatan zina sehingga melahirkan anak, tetapi dengan tegas Maryam menafikannya.


“Maka Maryam menunjukkan kepada si anaknya itu, kaumnya berkata:’bagaimana kamu boleh berbicara dengan anak yang masih di dalam buaian"
(Surah Maryam: 29)

Dengan izin Allah s.w.t., ‘Isa a.s. dapat berkata-kata dan bercakap-cakap dengan kaumnya, sekaligus menolak fitnah yang dilontarkan kepada ibunya dan di samping itu, secara tidak langsung ‘Isa a.s. walaupun masih di dalam buaian sempat berdakwah kepada kaumnya menyeru mereka kepada Allah, Tuhan yang Maha Satu:

“Berkata ‘Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana sahaja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku mendirikan solat dan menunaikan zakat selama aku hidup.”
(Surah Maryam: 30-31)

Jelas dan terang ungkapan mulut Nabi ‘Isa a.s. walaupun masih bayi dan sekaligus menolak dakwaan kaumnya yang menuduh ibunya yang suci itu melakukan perbuatan yang terkutuk.

Kesimpulan

Gambaran kristian terhadap Mary dan Jesus


Nabi ‘Isa a.s. serta ibunya Maryam adalah makhluk Allah s.w.t. yang terpilih, mereka tidak sekali-kali akan mengakui diri mereka sebagai Tuhan disebabkan nikmat yang diberikan kepada mereka, terutamanya Nabi ‘Isa a.s. Dakwaan bahawa Nabi ‘Isa itu adalah jelmaan Allah s.w.t. hanyalah cerita karut dan pembohongan semata-mata. 

‘Isa a.s. sendiri menyatakan di dalam Yohanes, fasal 17, ayat 3, bahawa

“Inilah hidup yang kekal, iaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah Yang Esa, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.”

Read more...
Related Posts with Thumbnails

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP