Wednesday, May 18, 2011

Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu

Kitab-kitab suci terdahulu, baik Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru, ada menyatakan secara jelas tentang Nabi Islam. 

Allah berfirman di dalam al-Qur’an mengenai perkara ini.


‘(Iaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ 
(al-A’raf: 157)

Bukan hanya Bible sahaja, tetapi semua naskah kuno yang pernah digunakan dalam ritual keagamaan memberi perkhabaran tentang kedatangan Nabi Islam.

Kitab Ulangan 18 ayat 17,18,dan 19 mengatakan: 
(17) Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; (18) seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka di antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku ke dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. (19) Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.

Ayat ini begitu jelas menyatakan tentang seorang nabi yang akan dipilih Allah di antara saudara-saudara Israel (orang Arab).

Ini adalah kata-kata yang penting untuk orang Yahudi yang masih menunggu pembuktiannya selama berabad-abad sehingga kedatangan Nabi Mohummad. Beberapa dari mereka, menurut Bible, mengetahui tempat dan waktu waktunya, sehingga mendorong mereka untuk pergi ke Madinah, dan Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. 

Mereka sering mengancam orang-orang Arab musyrik dengan berkata, ‘Ini adalah waktu dimana Allah akan mengirimkan seorang nabi yang akan kami ikuti, lalu akan memerangi dan melenyapkan kamu semua.’ Ketika Nabi Islam muncul, ramai orang yang beriman dan ramai pula yang tidak beriman. 

Di antara alasan yang mendorong mereka masuk Islam adalah banyaknya berita tentang nabi Islam di dalam berbagai kitab suci. Ada di antaranya telah dihapus. Ada juga yang diubah, tetapi ada pula yang masih menjadi bukti yang kuat mengenai kenabian Muhammad saw.

Petikan ayat di dalam Bible yang disebutkan di atas tadi, walaupun sepadan dengan nabi Islam, orang-orang Yahudi mendakwa bahawa petikan tersebut sesuai dengan Josua. Orang-orang Kristian pula memiliki pendapat yang berlainan, kerana mereka sering mengubah setiap ayat dalam Perjanjian Lama agar sesuai dengan kepercayaan mereka yang mempercayai Jesus adalah nabi yang terakhir. Mereka menukar kata-kata tertentu untuk memberikan maksud yang berlainan dan kadang kala bertentangan dengan fakta sejarah. Mereka juga memasukkan, menghapuskan dan menyisipkan kata-kata baru ke dalam ayat ayat di dalam perjanjian mereka ini agar sesuai dengan kepercayaan mereka.

Jadi kita menghadapi tiga pendapat yang berbeza: Siapa yang dimaksud nabi di sini? Apakah Josua, Jesus atau Muhammad saw? Hanya satu seorang dari mereka yang benar. Kami akan menjawab pertanyaan ini dalam artikel berikut:

Apakah ayat Bible di atas ini merujuk kepada salah satu nabi Yahudi? Jawabannya jelas tidak kerana:

(1) Ayat tersebut mengatakan, ‘Allah akan mengangkat seorang nabi dari saudara-saudara mereka.’ Jadi, ayat ini berbicara tentang seorang nabi yang bukan dari kalangan bangsa Israel.

(2) Jika ayat dimaksud itu merujuk kepada salah satu nabi Yahudi, maka Musa pasti berkata, ‘Dari kalangan kamu sendiri,’ iaitu dua belas suku utama Yahudi yang ada di hadapan Musa.

(3) Kata-kata di dalam kitab Ulangan memberi pembuktian terhadap fakta bahawa bukan Josua atau nabi Yahudi yang lain yang dimaksudkan di sini. Epilog tersebut mengatakan, 


‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.’ 
(Ulangan 34: 10)

Kitab Maleakhi


(4) Kitab Maleakhi, yang merupakan bahagian terakhir dari Perjanjian Lama, mencatat kata-kata yang difirmankan oleh Tuhan, yang menunjukkan bahawa utusan yang dijanjikan itu tidak datang pada masa tersebut. Ini jelas menunjukkan Josua bukan seorang nabi: 


‘Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.’ 
(Maleakhi 3: 1)

Kajian kajian sejarah membuktikan bahawa ayat ini tidak merujuk kepada Jesus. Tidak ada nabi yang dikatakan dari kalangan orang-orang Yahudi. Ayat ‘Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel’ juga membuktikan fakta ini. Mungkin epilog tersebut ditulis oleh Ezra pada 800 hingga 900 tahun setelah Musa. Jadi ayat tersebut menunjukkan orang yahudi menunggu selama 8 sampai 9 abad setelah Musa untuk mengetahui Nabi terakhir.

Kemungkinan ayat tersebut ditulis oleh beberapa ahli kitab yang lain apabila Taurat dan beberapa naskah Alkitab lainnya digabungkan di dalam buku sekitar lima ratus tahun selepas kewafatan Musa. Ini membuktikan ayat ini tetap tidak dapat membuktikan kemunculan nabi terakhir untuk tidak kurang dari 500 tahun setelah Musa. 


Ini juga tidak bermaksud bahawa ayat tersebut terbukti sesudahnya (kemunculan nabi terakhir). Tidak ada yang pernah dikatakan sebagai ‘utusan yang dijanjikan’, atau prasyaratnya dipenuhi seperti yang dikatakan di dalam Taurat. 


Hampir setiap pengkaji Bible mengatakan bahawa ayat tersebut masih belum terbukti. The Bible Knowledge Commentary mengatakan: Selama abad pertama masihi, pemimpin Judaisme masih mencari bukti dari kata kata Musa tersebut (silakan merujuk Yohanes I: 21).

Kemunculan nabi terakhir masih tidak terbukti sepanjang kehidupan Jesus dan Musa, dan perkara itu dapat dibuktikan dari Bible Yohanes (John) berikut: 


(19) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Jerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: ‘Siapakah engkau?’ (20) Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: ‘Aku bukan Mesiah.’ (21) Lalu mereka bertanya kepadanya: ‘Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ ‘Engkaukah nabi yang akan datang?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’ (22) Maka kata mereka kepadanya: ‘Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawapan kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?’ (23) Jawabnya: ‘Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya (Isaiah).’ (24) Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. (25) Mereka bertanya kepadanya, katanya: ‘Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesiah, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?’ 
(Yohanes 1: 19-25)

Dari pengkajian yang dilakukan di atas ini, jelas bahwa ‘Nabi yang seperti Musa’ belum dibangkitkan sehinggalah pada zaman Jesus.

Ahmed Deedat

Ahmed Deedat juga pernah mengenengahkan perkara ini. Lihat ceramah Ahmed Deedat, Muhammad in The Bible di sini.


Semoga memberi manfaat kepada kita semua dan menambahkan keyakinan dan keimanan kita terhadap Islam. Insya Allah.

1 comment: