Wednesday, December 30, 2009

Sejarah Sambutan Tahun Baru Masihi


Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2009 akan segera berganti, dan tahun 2010 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, kerana tahun baru Hijriyah telah terjadi satu minggu yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?



Sejarah Tahun Baru Masehi



Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam menyusun kalendar baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.



Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teori dapat menghindari penyimpangan dalam kalendar baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, iaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.





Perayaan Tahun Baru



Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristian. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekular yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.



Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.



Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu



Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.



Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).





Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan makanan selama setahun penuh. Bagi orang Kristian yang majoriti menghuni belahan benua Eropah, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Jesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristian sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Jesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Jesus lahir disebut tahun Masehi.



Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Syarikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Disember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisyen dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat loceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang meneriakkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Malaysia? Sama saja!





Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa minggu yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.

How the Qur’an corrected the Errors of the Bible

In the Qur’an, God tells the story of the Pharaoh and Haman:


haman


And Fir’aun (Pharaoh) said: “O Hâmân! build Me a tower that I may arrive at the ways, “The ways of the heavens, and I may look upon the Ilâh (God) of Mûsa (Moses) but Verily, I think Him to be a liar.” Thus it was made fair-seeming, In Fir’aun’s (Pharaoh) eyes, the evil of his deeds, and He was hindered from the (Right) path, and the plot of Fir’aun (Pharaoh) led to nothing but loss and destruction (for Him).



Haman has been ordered by the Pharaoh to build a tower. So lets look in the bible, is Haman told to construct something in the bible? Yes, but not by the Pharaoh. In the Book of Esther, Haman is an advisor to Xerxes (Ahaseures) and in Babylon. So there are three discrepancies between the Qur’an and the Bible regarding Haman.



  1. Haman worked for the Pharaoh in the Qur’an, while Haman worked for Xerces in the Book of Esther.

  1. Haman was in Egypt in the Qur’an, while Haman was in Babylon in the book of Esther.

  1. Haman was in the neighborhood of 1,000 years earlier in the Qur’an than in the book of Esther.



Now when people in Europe began studying eastern thought, as well as Islam they discovered this. Almost immediately they began saying that Muhammad (Peace be upon him) took this religion from some priest and mixed up the stories when he was “making” the Qur’an. Their main goal was to say that the Qur’an was made up, or written by man.



Louis(or Ludovico) Maracci a Catholic Priest and confessor to Pope Innocent XI

. (http://en.wikipedia.org/wiki/Ludovico_Marracci) wrote:



Mahumet(Muhammad) has mixed up sacred stories. He took Haman as the adviser of Pharaoh whereas in reality he was an adviser of Xerxes (Ahaseures), King of Persia. He also thought that the Pharaoh ordered construction for him of a lofty tower from the story of the Tower of Babel. It is certain that in the Sacred Scriptures there is no such story of the Pharaoh. Be that as it may, he Muhammadhas related a most incredible story”


Encyclopedia Britannica said in 1891:


“The most ignorant Jew could never have mistaken Haman (the minister of Ahasuerus) for the minister of the Pharaoh”



Those are just a few of the examples of ignorance thinking that it is the truth.



In the late 19th century, the Catholic Church declared the Book of Esther, of being a book of tales and not a historic book. Even the modern Jewish Encyclopedia has stated that this book is just a book of stories, stating that it was more of a book about Romance than did it state historic fact. While not ONE Muslim ever doubts what the Qur’an is, it is the word of God, not inspired to humans, but the actual word of God.



So now we have discussed what the Qur’an says, what the bible says, what the Christians scholars say about the authenticity of the Qur’an, and then what they say about the authenticity of the Book of Esther. Now lets discuss history.



In the 19th and 20th century when the study of Hieroglyphics began to revive the language of the ancient Egyptians; a French Doctor Maurice Bucaille, was studying history and came across this disparity in the Qur’an and the Bible. So he went to Egyptologist to get to the root of the person named “Haman”. What he discovered was at the estimated time of Moses, there was a man who was named ‘Haman’ and he was a worker of the Pharaoh and his duty was “The Chief of the workers in the stone-quarries.” SubhanAllah (Glory be to Allah) just as the Qur’an described it. So Dr. Bucaille went to one of the French Egyptologist and told him that the a man in 7th century who claimed to a Messenger of God, said that there was a man named Haman and that he was an architect for the Pharaoh. He was later told that this book was the Qur’an, and the Egyptologist responded:



Had the Bible or any other literary work, composed during a period when the hieroglyphs could still be deciphered, quoted ‘Haman,’ the presence in the Qur’an of this word might have not drawn special attention. But, it is a fact that the hieroglyphs had been totally forgotten at the time of the Qur’anic Revelation and that no one could not read them until the 19th century AD. Since matters stood like that in ancient times, the existence of the word ‘Haman’ in the Qur’an suggests a special reflection.”



Not just that alone, there was a statue found in Egypt, which is currently in a museum in Australia of an ancient architect from the time of the Pharaohs, with his name sketched into stone, ‘Haman.’



haman43


Now we don’t know if this is the same Haman as mentioned in the Qur’an, but the Qur’an has the correct location, the correct name, the correct occupation, and the correct timing, none of which the Bible has.

Keajaiban Al-Qur'an Dari Sudut Sejarah Perkataan Haman Di Dalam Al-Qur'an


Nama Haman disebutkan sebanyak enam kali di dalam Al-Quran al-Kareem. Namanya juga dikaitkan dengan Firaun sebagai seorang yang berjawatan penting. Dia telah diarahkan oleh Firaun untuk membina sebuah bangunan yang tinggi bagi membolehkan beliau berjumpa dengan ‘Tuhan Musa’ kononnya.


Firman Allah SWT yang bermaksud:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأسْبَابَ (٣٦)أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلا فِي تَبَابٍ (٣٧)

("Dan berkatalah Firaun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Firaun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian") (al-Ghafir: 36-37)

Nama Haman tidak dinyatakan di dalam Taurat atau di mana-mana lembaran kitab suci agama lain apabila menceritakan tentang Nabi Allah Musa as kecuali hanya sebuah kitab yang menyatakannya iaitu Kitab ‘Old Testament’. Walau bagaimanapun, di dalam kitab tersebut dinyatakan bahawa Haman adalah merupakan seorang pembantu Raja Babilion, sedangkan kerajaan Babilion mula bertapak di Iraq hanya 1100 tahun selepas zaman Nabi Musa as.

Bagi mereka-mereka yang menganggap bahawa Al-Quran merupakan kitab yang direka dan dikarang sendiri oleh Nabi Muhammad SAW, dan kisah-kisah umat terdahulu telah disalin daripada kitab Taurat dan Injil. Pada sangkaan mereka, Muhammad SAW telah tersilap tentang Haman kerana mengatakan bahawa dia adalah seorang menteri kepada Firaun sedangkan yang sebenarnya dia adalah seorang penolong Raja Babilion.

Akhirnya ilmu arkeologi telah membuktikan bahawa Al-Quranlah yang lebih benar sekaligus menyangkal dakwaan mereka. Setelah para ahli arkeologi tersebut dapat membaca tulisan hieroglyph (tulisan Mesir purba), maka di situ tercatatlah nama Haman serta pekerjaannya. Tulisan tersebut yang berada di Muzium Hof, Vienna menyebutkan bahawa Haman adalah seorang ‘ketua kerja-kerja binaan batu’ dan seorang lelaki daripada ‘Kerajaan Baru’ (The name is listed as masculine, from the New Kingdom. The profession translated into German reads Vorsteher der Steinbruch Arbeiter: The Chief / Overseer of the workers in the stone quarries).

Maklumat ini tidak mungkin dapat diketahui pada zaman Rasulullah SAW, kerana tulisan hieroglyph telah lupus ditelan zaman dan kembali digunakan kali terakhir pada tahun 394Masihi. Kemudian ianya dilupakan sehingga tiada seorang pun yang mampu membaca dan memahaminya sehinggalah pada tiga ratus tahun kebelakangan ini. Ini berlaku setelah penemuan batu rosetta (Rosetta Stone) pada tahun 1799M. Batu yang berusia ribuan tahun semenjak dari tahun 196 Sebelum Masihi telah menyingkap banyak sejarah Kerajaan Mesir Purba dari segi agama, ekonomi, masyarakat, dan lain-lain. Maka dari situlah juga terungkap siapakah sebenarnya Haman serta pekerjaannya. Tepat sepertimana yang telah dinyatakan di dalam kitab suci kita Al-Quran al-Kareem.

Dari manakah datangnya segala pengetahuan ini kepada Nabi Muhammad? Sedangkan tulisan tersebut telah hilang ditelan zaman dan dilupakan. Nama Haman juga telah dilupakan oleh para ahli kitab dan hilang daripada catatan sejarah. Ianya disebutkan kembali setelah Al-Quran diturunkan 12 kurun sebelum para ahli arkeologi menjumpai Batu Rosetta dan mampu memahami dan membaca tulisan hieroglyph.

Setelah mampu membaca tulisan tersebut, maka tebuktilah bahawa Haman merupakan salah seorang menteri Firaun yang bertugas dalam kerja-kerja pembinaan. Justeru menafikan bahawa Al-Quran direka dan dikarang oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Malah sumbernya tidak lain tidak bukan adalah daripada Allah SWT, Tuhan yang maha Mengetahui segala sesuatu.

Tuesday, December 29, 2009

Dr. Abu Ameenah Bilal Phillips: Berdakwah kepada Tentera Amerika


SELEPAS enam bulan lamanya saya mengkaji dan berbincang secara serius, akhirnya saya membuat keputusan untuk memeluk Islam pada tahun 1972,” kata pendakwah terkemuka, Dr. Abu Ameenah Bilal Phillips.

Namun sebelum memeluk Islam dan sedang mengikuti pengajian di Universiti Simon Frasier di Vancouver, Kanada, Dr. Abu Ameenah yang mahir bermain muzik terutamanya gitar, sering menghabiskan masa mengadakan persembahan di kelab-kelab malam.

Sehinggalah tamat pengajian dan mengambil keputusan menetap di Sabah, Malaysia, Dr. Abu Ameenah meneruskan minatnya terhadap muzik dan dunia seni hiburan.



Di Sabah, beliau mengadakan persembahan-persembahan sehingga mendapat gelaran sebagai Jimmy Hendrix Sabah kerana begitu popular!



“Tetapi apabila memeluk Islam saya berasa tidak selesa dengan dunia hiburan. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk bersara, sama ada secara profesional dan peribadi.



“Saya tidak lagi bermain muzik walaupun tuhan sahaja yang tahu betapa saya begitu sukakan muzik dan menghiburkan para pendengar,” katanya.



Keputusan yang agak mengejutkan para peminat itu turut disebabkan apabila selepas setahun memeluk Islam, Dr. Abu Ameenah melanjutkan pelajaran mendalami Islam di Universiti Madinah di Arab Saudi. Katanya, beliau mahu mengenali Islam dengan lebih mendalam daripada sumber-sumber yang lebih asli dan sahih kerana Islam itu berasal dari Arab Saudi itu sendiri.



“Ini kerana Islam tidak boleh dikenali dari amalan-amalan tradisi kerana kadang kala tidak bersumber atau berasaskan ajaran Islam itu sendiri,” katanya.



Ketika menyiapkan pengajian di peringkat sarjana di Universiti Riyadh, beliau sempat menerbitkan program televisyen untuk Saluran Dua Televisyen Saudi iaitu rancangan yang dikenali sebagaiWhy Islam? Ia memfokuskan wawancara bersama mereka yang memeluk Islam dari asal usul dan latar belakang yang berbeza dan sebab musabab mengapa mereka memeluk Islam. Walaupun beliau beroleh pelbagai ilmu pengetahuan mengenai Islam sehingga ke peringkat sarjana namun perkembangan itu masih tidak membolehkan beliau menjawab pelbagai persoalan mengenai Islam. Terutama yang bertalu-talu ditanya oleh kalangan rakan dan ahli keluarganya sendiri.



Ini membuatkan beliau melakukan satu penyelidikan. Akhirnya segala kemusykilan bagaikan terjawab apabila beliau berjaya menulis sebuah buku bertajuk Poligami Dalam Islam. Dr. Abu Ameenah mengupas persoalan mengenai poligami itu daripada aspek sejarah dan biologi dan rasional di sebalik sistem itu.



Beliau benar-benar seorang penulis yang prolifik mengenai dunia Islam walaupun baru setahun jagung memeluk Islam. Ini apabila buku kedua beliau iaitu Fundamentals of Islam Monotheism diterbitkan bagi menjelaskan keunikan Islam dari aspek kepercayaan kepada Tuhan Yang Satu.



Selesai mendapatkan ijazah sarjana, beliau ditawarkan bertugas di Bahagian Agama di Ibu Pejabat Tentera Udara Arab Saudi semasa meletusnya perang Teluk (Desert Storm) pada tahun 1990. Di sini, Dr. Abu Ameenah bertanggungjawab memberi penerangan mengenai Islam kepada anggota-anggota tentera Amerika Syarikat (AS) yang berpangkalan di Bahrain dan Wilayah Timur Laut Arab Saudi.



“Oleh kerana imej Islam menjadi begitu buruk di Amerika, saya bersama lima lagi rakan selama hampir enam bulan selepas tamatnya Perang Teluk itu, terlibat dalam projek menjelaskan dan memberikan gambaran sebenar mengenai Islam kepada hampir separuh anggota tentera AS yang berpengkalan di situ,” katanya.



Hasilnya, tanpa disangka seramai 3,000 anggota tentera AS itu memeluk Islam kerana tertarik dengan kebenaran dan keindahan Islam. Namun beliau menyedari bahawa tugas yang lebih berat adalah memastikan bahawa askar-askar itu tetap berpegang teguh kepada Islam dan mematuhi dan ajaran-ajaran agama itu. Lalu apabila askar-askar itu kembali semula ke tanah air, Dr. Abu Ameenah mengikut mereka pulang ke AS bagi membantu saudara-saudara baru itu.



Di Amerika, beliau dengan bantuan sebuah pertubuhan bukan kerajaan (NGO), Muslim Members of the Military (MMM) sering mengadakan persidangan dan pelbagai aktiviti. Ini termasuk berusaha mendapatkan kemudahan mendirikan ibadat dan solat bagi kemudahan askar-askar beragama Islam di seluruh dunia di mana pangkalan-pangkalan tentera Amerika ada ditempatkan.



Kerajaan AS akhirnya bersetuju dengan permintaan itu dan meminta supaya dilantik seorang dari kalangan anggota tentera beragama Islam itu bertugas sebagi Muslim Chaplains di setiap pangkalan tentera AS. (Nota: Chaplains lazimnya merujuk jawatan paderi Kristian yang bertugas di pangkalan tentera AS)



“Apa yang membuatkan saya lebih terharu, apabila ada di kalangan anggota tentera AS yang baru memeluk Islam ini menawarkan diri berjihad bagi membantu umat Islam yang tertindas dek kekejaman rejim dan puak Serbia di Bosnia Herzegovina,” katanya.



Dr. Abu Ameenah terus melebarkan usaha walaupun dikira baru dalam Islam dengan terus komited terhadap agama itu dengan mengembara ke Selatan Filipina iaitu Pulau Mindanao. Tujuannya mengajak umat Islam di situ supaya mencintai kedamaian berbanding bertindak terlalu agresif sehingga mencemarkan imej Islam itu sendiri. Beliau juga berjaya menaikkan taraf pengajian Islam di Universiti Cotabato City bagi menawarkan peluang pengajian sehingga ke peringkat Sarjana di universiti itu.



Pada tahun 1994, beliau kemudiannya berhijrah ke Emiriah Arab Bersatu bagi menerima jemputan Sheikh Salim Al Qasimi. Beliau diminta menjayakan satu pertubuhan kebajikan beribu pejabat di Dubai yang dikenali sebagai Dar Al Ber. Di pertubuhan itu, Dr. Abu Ameenah berjaya mendirikan sebuah Pusat Maklumat Islam dengan dibantu oleh para sahabat yang baru memeluk Islam tetapi sudah begitu komited terhadap segala perjuangan agama itu. Ini termasuklah Uthman Barry (saudara baru berbangsa Ireland), Ahmed Abalos (saudara baru dari Filipina) dan Abdul Latif, saudara baru dari Kerala, India.



Dalam tempoh lima tahun sejak penubuhan pusat itu, seramai 1,500 individu dari AS, Australia, United Kingdom, Russia, China, Jerman, Filipina, Sri Lanka, India dan Pakistan memeluk Islam di situ.



Sejak tiga tahun lalu, beliau berjaya menubuhkan jabatan yang dikenali sebagai Jabatan Kesusasteraan Asing di Dar Al Fatah, Kementerian Luar Dubai. Ia bagi menjelaskan mengenai Islam kepada yang bukan Islam melalui bahasa-bahasa asing selain bahasa Arab dan Inggeris. Namun hari yang paling menggembirakan beliau apabila kedua-dua orang tuanya yang dalam usia 70-an, yang sebelum ini menghabiskan kebanyakan usia mereka di utara Nigeria, Yemen dan Malaysia akhirnya memeluk Islam empat tahun lalu.



Walau mengecap dunia glamor semasa bergelar Jimmy Hendrix Sabah namun semua itu hanya tinggal kenangan. Berdakwah di jalan Allah dan hidup dalam kesederhanaan lebih menjanjikan kenikmatan dan ketenteraman dalam jiwa yang hakiki.




Bulan Pernah Terbelah - Mukjizat Nabi Muhammad S.A.W.



“Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan.
(Al-Qamar (54): 1)

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan sebuah stasiun televisi, seorang pakar geologi muslim, Prof. Dr. Zaghlul An-Najar, ketika ditanya oleh pembawa acara tentang ayat di atas: “Apakah terdapat i’jaz ilmi (kemukjizatan yang bersifat sains) yang terkandung dalam ayat di atas?” Beliau memberikan jawaban dengan mengatakan:



“Berkenaan dengan ayat ini, saya mempunyai sebuah cerita. Sudah sejak lama saya menjadi tenaga pengajar di Universitas Chardif di bagian barat Inggris. Yang datang mengikuti perkuliahanku terdiri dari muslim dan non muslim. Pernah suatu ketika terjadi perbincangan yang menarik tentang i’jaz ilmi dalam Al-Quran.”



Di tengah-tengah diskusi, ada seorang pemuda muslim berdiri dan mengatakan: “Tuan, apakah Anda melihat bahwa di dalam firman Allah swt:



Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar (54): 1)



terdapat isyarat i’jaz ilmi dalam Al-Quran?”



Dr. Zaghlul mengatakan: “Tidak, karana i’jaz ilmi ditafsirkan oleh ilmu (sains), sedangkan mukjizat, ilmu (sains) tidak mampu menafsirkannya. Mukjizat adalah suatu perkara luar biasa yang tidak dapat ditafsirkan oleh hukum alam (hukum kausalitas). Terbelahnya bulan adalah mukjizat yang terjadi untuk Rasulullah saw, dan menjadi bukti kenabian dan kerasulannya. Mukjizat visual adalah bukti nyata bagi orang yang menyaksikannya. Seandainya hal itu tidak datang dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya tentu kita ummat Islam di abad ini tidak wajib mengimaninya. Akan tetapi kita mengimaninya karana telah datang keterangannya di dalam kitab Allah swt dan di dalam sunnah Rasul-Nya dan karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”



Dr. Zaghlul kemudian menyampaikan kisah terbelahnya bulan sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab hadits. Dia mengatakan bahwa lima tahun sebelum Nabi saw berhijrah dari Makkah ke Madinah, ada sekelompok orang Quraisy yang datang menemui beliau dan mengatakan: “Hai Muhammad, jika engkau benar-benar seorang nabi dan rasul maka datangkanlah bukti yang menunjukkan bahwa engkau memang benar-benar seorang nabi dan rasul.” Maka Nabi bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian inginkan?” Mereka berkata dengan tujuan melemahkan dan menantang: “Belahlah untuk kami rembulan itu!” Nabi saw lantas berdiri beberapa saat. Beliau berdoa kepada Allah swt agar memberikan pertolongan untuknya dalam situasi seperti ini. Allah swt lantas memberikan ilham kepada beliau untuk berisyarat dengan menggunakan jari tangan beliau ke arah renbulan. Tiba-tiba rembulan tersebut terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian menjauh dari bagian yang lain selama beberapa jam kemudian menyatu kembali.



Maka orang kafir berkomentar: “Muhammad telah menyihir kita.” Akan tetapi orang-orang yang cerdas diantara mereka mengatakan: Sesungguhnya sihir itu terkadang dapat mempengaruhi orang-orang yang menyaksikannya dan tidak dapat mempengaruhi seluruh manusia. Maka tunggulah rombongan yang datang dari perjalanan.” Maka orang-orang kafir bergegas keluar menuju pintu-pintu kota Makkah untuk menunggu orang-orang yang datang dari perjalanan. Ketika rombongan pertama datang, orang kafir menanyakan kepada mereka: “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh terjadi pada rembulan itu?” Mereka menjawab: “Ya, benar. Pada malam anu kami melihat rembulan itu telah terbelah menjadi dua dan saling berjauhan satu dari yang lain kemudian kembali menyatu.” Maka berimanlah sebagian dari mereka dan kafirlah orang-orang yang tetap kafir. Oleh karena itu Allah swt berfirman dalam kitab-Nya:



“Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al-Qamar (54): 1-3).



Dr. Zaghlul melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan: “Dan sesudah aku mengakhiri penjelasanku, ada seorang pemuda Inggris muslim berdiri dan memperkenalkan dirinya: “Aku bernama Dawud Musa Bidcook, Ketua Hizb Islami Britain.” Setelah itu dia mengatakan: “Tuan, bolehkah aku memberi keterangan tambahan?” Aku menjawab: “Silakan.” Dia berkata: “Sebelum masuk Islam, saya mempelajari banyak agama. Satu hari ada seorang mahasiswa muslim memberikan hadiah kepadaku berupa terjemahan Al-Quran. Aku berterima kasih kepadanya atas hadiah tersebut. Lalu buku terjemah Al-Quran tersebut aku bawa pulang ke rumah. Saat aku membukanya, surat yang pertama kali aku baca adalah surat Al-Qamar. Aku membaca ayat:



“Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar (54): 1)



Maka aku mengatakan: “Apakah ucapan ini masuk akal?! Apa mungkin bulan terbelah kemudian menyatu kembali? Kekuatan apakah yang mampu melakukan itu?”



Maka pemuda tadi mengatakan: “Ayat ini membuatku tidak dapat melanjutkan membaca Al-Quran dan akupun tersibukkan dengan urusan dunia. Akan tetapi Allah swt mengetahui seberapa jauh keikhlasanku dalam mencari kebenaran. Maka Tuhanku mendudukkan aku di depan televisi Inggris yang di sana ada acara dialog antara komentator Inggris dengan tiga ilmuwan ruang angkasa Amerika. Pembawa acara ini memberikan komentar miring terhadap tiga pakar tersebut karena telah menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk perjalanan ruang angkasa pada saat bumi dipenuhi berbagai problematika kelaparan, kemiskinan, timbulnya berbagai penyakit dan keterbelakangan. Sang komentator mengatakan: “ Seandainya biaya yang demikian banyak itu dihabiskan untuk memakmurkan bumi tentu lebih bermanfaat.” Akan tetapi tiga pakar tersebut tetap membela pendapat-pendapatnya dengan mengatakan bahwa sesungguhnya teknologi ini bisa bermanfaat secara praktis dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa bermanfaat dalam ilmu kedokteran, industri dan pertanian. Jadi biaya yang demikian besar itu bukanlah harta yang dihambur-hamburkan dengan percuma, akan tetapi biaya tersebut membantu perkembangan teknologi maju untuk mewujudkan tujuan mulia.



Di sela-sela dialog tersebut muncul penyebutan tentang perjalanan yang mendaratkan seorang astronot di atas permukaan bulan. Karena pendaratan tersebut adalah perjalanan ruang angkasa yang paling banyak memakan biaya – ia telah menghabiskan lebih dari 100 milion dolar Amerika – maka dengan nada tinggi, komentator Inggris mengatakan: “Kebodohan macam apa ini? 100 milion dolar Amerika hanya untuk mendaratkan seorang ilmuwan Amerika di atas bulan?” Mereka menjawab: “Tidak, tujuannya bukan untuk mendaratkan ilmuwan Amerika di atas bulan, tapi kami mempelajari susunan bulan bagian dalam.



Dan kami pun telah menemukan sebuah fakta ilmiah, seandainya kita menghabiskan biaya berkali-kali lipat untuk membuat orang percaya terhadap fakta tersebut, tentu tidak ada orang yang mempercayai kami.” Maka sang komentator mengatakan: “Fakta apa itu?” Mereka menjawab: “Bulan ini pernah terbelah pada suatu hari kemudian menyatu kembali.” Komentator bertanya: “Bagaimana kalian mengetahui hal itu?” Mereka menerangkan: “Kami mendapatkan sebuah sabuk dari bebatuan yang membelah rembulan dari permukaan hingga ke bagian dalamnya. Kami lantas berembuk dengan para pakar ilmu tanah dan geologi dan mereka mengatakan hal tersebut tidak mungkin terjadi kecuali jika rembulan pernah terbelah kemudian menyatu lagi.”



Dawud Musa Bidcook lalu mengatakan: “Maka saya segera meloncat dari kursi tempat duduk saya, dan saya katakan, “Sebuah mukjizat terjadi untuk Muhammad saw pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Allah swt menundukkan orang-orang Amerika untuk membelanjakan lebih dari 100 milyar US dollar guna menetapkan kebenaran mukjizat itu untuk Islam?! Kalau begitu, pasti agama ini adalah agama yang haq.” Pemuda itu melanjutkan perkataannya: “Maka saya pun segera kembali ke mushaf dan langsung membaca surat Al-Qamar, dan surat itulah yang menjadi pintu masuknya Islam ke dalam hatiku.” Allahu a’lam

Monday, December 28, 2009

Al-Qur’an Mendahului Sains Modern


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41): 53).



A. Al-Qur’an Kitab Hidayah



Tanya: Untuk apa Allah swt menurunkan Al-Qur’an?



Jawab: Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, bukan kitab kedokteran atau teknik, bukan kitab astronomi atau kimia yang menghimpun berbagai informasi ilmiah ilmu-ilmu tersebut. Sekali lagi ia hanya kitab hidayah ilahi bagi perilaku manusia.



B. Al-Qur’an Turun dengan Ilmu Allah swt



Tanya: Kalau begitu apa maksud ungkapan “Al-Qur’an mendahului sains modern?”



Jawab: Artinya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang manusia, tumbuhan, atau makhluk lain, ia pasti berbicara tentang hakikatnya. Manusia baru mengetahuinya setelah sains dan peralatan-peralatan canggih digunakan untuk melakukan berbagai penelitian ilmiah. Itulah makna Al-Qur’an mendahului sains modern sekaligus sebagai bukti baru mukjizat Al-Qur’an di masa kemajuan teknologi yang semakin menegaskan bahwa ia adalah kalamullah yang tidak sedikitpun mengandung kesalahan.



C. Sesaknya Dada



Tanya: Apa contoh masalah ini?



Jawab: Contoh-contoh cukup banyak, di antaranya penemuan para pilot tentang semakin sesaknya dada mereka setiap kali mereka menambah ketinggian di udara sampai-sampai mereka merasa tercekik karena tak mampu bernafas akibat semakin berkurangnya kadar oksigen. Realita ini belum diketahui sebelumnya, orang menganggap bahwa udara tersedia sampai ke planet-planet dan bintang-bintang yang ada di langit. Sedangkan Al-Qur’an telah mengungkap hakikat ini sejak empat belas abad lebih. Allah swt. berfirman:



“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al-An’am (6): 125).



Maksudnya: Barangsiapa berhak disesatkan Allah swt karena amal-amalnya yang buruk dan permusuhannya terhadap Islam, maka Allah swt. menjadikan dadanya sempit bila mendengar mauizhah (nasihat) yang mengingatkannya tentang kebenaran Islam seperti sempitnya dada orang yang naik ke langit. Hal ini tidak diketahui manusia yang tidak beriman sebelum mereka menggunakan pesawat terbang. Lalu apakah Nabi Muhammad saw. memiliki pesawat khusus untuk menyampaikan informasi ini? Atau apakah yang disampaikan semata wahyu yang berasal dari ilmu Allah swt?!



D. Informasi tentang Pusat Perasa di Kulit



Tanya: Adakah contoh yang lain?



Jawab: Ya, kita ambil contoh dari susunan tubuh manusia. Dulu orang percaya bahwa saraf perasa terdapat di seluruh tubuh dengan kepekaan yang sama. Namun ilmu pengetahuan modern mengungkap kekeliruan ini, ternyata pusat kepekaan terhadap rasa sakit dan lainnya terletak pada kulit di mana jarum suntik hanya terasa sakit pada kulit. Al-Qur’an menyebutkan hakikat ini sebelum penemuan para ahli.



“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa (4): 56).



Maksudnya: Perasaan sakit menerima azab terpusat pada kulit mereka dan apabila kulit itu telah hangus matang mereka tidak merasakan azab lagi. Oleh karenanya, Allah swt. Yang Maha Mengetahui ciptaan-Nya menggantinya dengan kulit yang baru agar mereka tetap merasakan azab.



Apakah Muhammad saw memiliki alat-alat bedah khusus untuk mengetahui informasi ini? Atau apakah ini hanyalah bukti bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan dengan ilmu-Nya? Maha Benar Allah swt. yang telah berfirman:



“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41): 53).



Kesimpulan



Al-Qur’an mengandung informasi yang baru terungkap kebenarannya setelah berabad-abad lamanya seiring kemajuan ilmu pengetahuan.



  • Di antaranya informasi Al-Qur’an tentang sesaknya dada orang yang menjelajah langit, dan pusat rasa yang ada di kulit. Ilmu pengetahuan abad dua puluh kemudian membenarkan informasi Al-Qur’an ini.

  • Kebenaran ini sebagai bukti bahwa Al-Qur’an semata-mata wahyu Allah swt. kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Allahu a’lam

Ribuan Warga Jerman Masuk Islam


Penodaan dan pendustaan terhadap Islam terjadi di banyak negara di Barat. Tak terkecuali di Jerman. Penodaan dalam beragam bentuk dan cara, terbaru adalah drama “ayat-ayat setan”. Sebagaimana yang lain, drama ini juga menebar kebencian dan penodaan terhadap Islam.

Namun, pada waktu yang bersamaan justeru banyak warga negara Jerman yang masuk Islam, berbondong-bondong, dari hari ke hari.



Pekan lalu menjadi saksi, seorang Penulis sekaligus Wartawan kelahiran asli Jerman bernama Hendrik Bruder (61 th), yang sebelum-sebelumnya terkenal memojokkan Islam dan umatnya, masuk Islam. Masuk Islamnya dia boleh dibilang mendadak…. Dia berkomentar : “Dengarlah, saya telah memeluk Islam.”



Setelah terjadi pergolakan bantin yang hebat selama bertahun-tahun, karena interaksi dan diskusi intens yang ia lakukan dengan seorang Iman Masjid Ridha di Nicola.



Kenyataan ia setelah masuk Islam, “Saya tidak meninggalkan agama, saya justeru kembali pada hakikat agama yang benar, iaitu Islam. Karana Islam agama fitrah, semua anak manusia dilahirkan dalam kondusi demikian.” katanya.



Cerita masuknya warga negara Jerman tidak hanya kali ini saja. Pada tahun sebelumnya, ribuan warga asli Jerman kembali pada pangkuan Islam. Pada tahun 2007 saja terhitung seribu orang masuk Islam, demikian diakui oleh Menteri Dalam Negeri Jerman.



Sebuah Pusat LSM Islam menyebutkan dari tiga juta empat ratus (3,4 juta) penduduk muslim di Jerman, lima belas ribu (15 000) di antara penduduk Asli Jerman.



Sebuah bancian yang dilakukan oleh berbagai media massa di Jerman memaparkan, bahawa antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan perempuan. Bancian tersebut juga menambahkan bahwa jumlah itu naik tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.



Sebuah perguruan tinggi Islam di Jerman menyebutkan bahwa di tahun 2006 warga Jerman yang masuk Islam berjumlah empat ribu orang (4000), dibandingkan tahun 2005, hanya seribu (1000) orang. Salim Abdullah, Direktur Perguruan Tinggi Islam itu menyebutkan, “Delapan belas ribu warga asli Jerman telah masuk Islam.”



Penodaan dan penistaan yang dialamatkan pada Islam dan kaum muslimin yang terjadi di Barat, merupakan rahasia dan pemicu masuknya warga negara Jerman pada agama Islam.



“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ali Imran:54.

Sila lihat video dibawah...lihatlah betapa tingginya kesedaran warga Jerman dalam menerima Islam. Di akhir video ni, seluruh dewan menerima Islam. Allahuakhbar!


Islam dan Hari Krismas


Saya terasa terpanggil untuk memberi sedikit pandangan dari perspektif Islam berkenaan dengan sambutan hari Krismas (Christmas) oleh penganut-penganut agama Kristian ketika melawat Menara Berkembar Kuala Lumpur (KLCC) pada hari Ahad, 6 Disember 2009 yang lalu. Ini adalah kerana hiasan sambutan hari Krismas di lobi KLCC itu begitu hebat dan belum pernah saya lihat sehebat itu di mana-mana.



Pengenalan Sambutan Hari Krismas



Definasi Krismas dari Wikipedia adalah:



Christmas or Christmas Day is an annual holiday celebrated on December 25 that commemorates the birth of Jesus of Nazareth.”1



Jika dirujuk perkataan “Christmas” dalam buku Istilah Agama Kristian, Bahasa Inggeris – Bahasa Malaysia, ia mengatakan:



“- Krismas, Hari Natal, Pesta Kelahiran Tuhan Yesus2



Jadi jelaslah yang Krismas ini adalah hari sambutan kelahiran Nabi Isa (Yesus) bagi penganut agama Kristian (yang menganggapnya sebagai Tuhan) dilakukan setiap tahun pada 25 Disember. Skop perbincangan ini hanya akan memfokuskan kepada sambutan Krismas sahaja dan tidak pada doktrin ketuhanan nabi Isa, walaubagaimanapun perlu ditegaskan di sini yang Islam amat menentang doktrin syirik itu (Qur’an 5:76).



Bila Nabi Isa a.s. Dilahirkan?



Al Qur’an tidak memberikan tarikh dan masa yang tepat berkenaan hal ini tetapi sekadar gambaran masa kelahiran nabi Isa a.s. Seperti Firman Allah s.w.t.



“Maka seseorang menyerunya dari tempat yang rendah: Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, nescaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu..” (Qur’an 19:24-26)



Peristiwa di atas berlaku pada Maryam a.s. selepas melahirkan Nabi Isa a.s. Di dalam ayat di atas ada menyebut tentang buah kurma yang masak di atas pohonnya, ini menunjukkan yang masa kelahiran itu tentu sekali bukan di dalam musim sejuk, bahkan bermungkinan besar di dalam musim bunga ataupun musim panas.



Bagaimana pula dengan Alkitab? Ini adalah persoalan yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Sambutan Krismas adalah pada setiap 25 Disember dan sinonim dengan salji musim sejuk.



Kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) tidak banyak menyentuh tentang kelahiran Nabi Isa a.s. Kitab Matius menyentuhnya secara ringkas, manakala kitab Markus dan Yohanes langsung ‘membisu’ dalam hal ini. Kitab Lukas adalah satu-satunya sumber rujukan yang agak mendalam dengan mengambarkan masa kelahiran Nabi Isa a.s.:



“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria (Maryam) untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam“. (Lukas 2:6-8)



Di dalam ayat di atas, ada mengatakan yang gembala-gembala tinggal di padang rumput untuk menjaga ternakan mereka pada waktu malam, ini menunjukkan yang musim itu bukanlah musim hujan mahupun musim sejuk. Dalam Adam Clarke Commentary, jelas mengatakan yang aktiviti-aktiviti gembalaan seperti yang dinyatakan dalam Lukas 2:2-8 berlaku dalam musim bunga atau musim panas:



It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the fields and deserts about the Passsover (early Spring), and bring them home at commencement of the first rain…..the first rain began early in the month of Marchesvan, which answer to part of our October and November. We find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer.3



Jadi terbuktilah yang sambutan Krismas pada tarikh 25 Disember adalah satu kesilapan masa. Tiada seorang pegembala pun yang sanggup tidur bersama-sama dengan ternakannya di padang rumput pada musim hujan mahupun pada musim sejuk. Pengalaman penulis di India pada musim sejuk, semua ternakan seperti kambing akan di masukkan ke dalam rumah pengembala itu sendiri malah dipakaikan ‘baju’ guni untuk menjaga kesihatan ternakan itu. Bayangkanlah bagaimana keadaan ternakan itu jika ianya diletakkan di padang rumput sepanjang malam pada musim sejuk?



Jadi terbuktilah yang sambutan Krismas pada 25 Disember adalah satu salah faham di dalam ajaran agama Kristian yang telah dibuktikan dari Alkitab (Bible) mereka sendiri. Apa yang menariknya ialah kitab Lukas lebih menepati apa yang Allah s.w.t. Firmankan dalam Surah Maryam, ayat 24 hingga 26, iaitu kelahiran Nabi Isa a.s. bukanlah pada musim hujan mahupun musim sejuk, sebaliknya ia adalah pada musim bunga ataupun musim panas.



Mengapa 25 Disember?



Sebenarnya 25 Disember telah disambut sejak sebelum dari kelahiran Nabi Isa a.s. lagi bagi memperingati ulang tahun kelahiran dewa matahari mengikut mitos kepercayaan masyarakat Romawi (Rom) kuno. Oleh kerana agama Kristian telah diterima oleh kerajaan dan rakyat Romawi pada kurun ke-4 Masihi maka perayaan pada 25 Disember tadi telah diadaptasi menjadi perayaan Krismas kerana pemuka-pemuka agama Kristian ingin menjaga hati orang-orang Romawi yang baru menerima agama Kristian itu. Akhirnya pada 350 Masihi Pope Julius 1 (337 – 352M) telah mengistiharkan secara rasminya yang perayaan Krismas adalah hari suci bagi gereja Katholik.



Dalam The Encyclopedia Americana, di bawah tajuk “Christmas”, ada mengatakan:



“CHRISTMAS, the ‘Mass of Christ’— In the 5th century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the Birth of Sol (the Sun) —. Among the German and Celtic tribes, the Winter Solstice was considered an important point of the year, and they held their chief festival of Yule to commemorate the return of the burning-wheel (the sun).”4



Jadi jelaslah kepada kita yang sambutan hari Krismas bukanlah berasal dari ajaran agama Kristian itu sendiri tetapi telah diadaptasi dari kepercayaan karut Romawi kuno. Ini tidak seperti ajaran Islam yang tegas menghapuskan semua perayaan kebatilan kepada para penganutnya seperti mana peristiwa yang diriwayatkan oleh Anas r.a. Semasa Rasullullah s.a.w. sampai ke Madinah dan penduduk Madinah ketika itu sedang manyambut perayaan selama dua hari, bertanyalah Rasulullah s.a.w kepada mereka tentang apa yang mereka rayakan itu. Setelah diberitahu yang sambutan itu adalah sambutan sejak dari sebelum mereka memeluk agama Islam lagi, maka Rasullullah s.a.w. menjawab yang Allah s.w.t. telah menggantikan perayaan itu dengan dua perayaan Islam (iaitu Aidilfitri dan Aidiladha). Dengan cara itu terhapuslah segala perayaan yang tidak islamik sebelum era kedatangan Islam.



Hukum Menyambut Krismas Bagi Orang Islam



Islam amat menggalakan sifat kasih sayang dan hormat-menghormati di dalam semua aspek kebaikan sesama manusia, sekalipun fahaman atau anutan mereka adalah berbeza. Walau bagaimanapun, Islam tetap meletakkan had dan sempadan apabila sesuatu perkara itu menjejaskan akidah penganutnya. Seperti yang telah disentuh di atas, sambutan Krismas adalah satu bentuk salah-faham dalam agama Kristian daripada 3 segi:



1. Mengikut buku Istilah Agama Kristian, Bahasa Inggeris – Bahasa Malaysia (di atas) mengatakan yang sambutan Krismas adalah sambutan ‘hari lahir Tuhan Yesus’. Jadi ini sama sekali bertentangan dengan aqidah Islamiah yang meyakini Allah itu Esa dan tidak berbilang.



2. Tarikh 25 Disember bukanlah tarikh kelahiran Nabi Isa a.s. yang sebenar.



3. Tarikh 25 Disember sebenarnya adalah sambutan kelahiran dewa matahari bagi orang-orang Romawi kuno, jadi sambutan itu adalah sebuah perayaan kabatilan.



Sambutan Krismas adalah sambutan syirik orang-orang Kristian menyambut kelahiran tuhan mereka ke dunia yang dipanggil dalam bahasa Ibrani sebagai “Immanuel” (“Tuhan menyertai kita”)5. Oleh sebab itu, Islam tidak membenarkan sama sekali umatnya untuk terlibat serta dalam apa juga bentuk sambutan hari Krismas, sama ada secara langsung ataupun tidak langsung walaupun hanya dengan mengatakan, “Happy Christmas” atau “Merry Christmas” sekalipun tanpa toleransi.



Jadi hukum menyambut Krismas dalam apa bentuk sekalipun adalah haram dan ditakuti boleh membawa kepada syirik. Umat Islam tidak dibenarkan untuk tolong-menolong dalam melakukan ketidaktaatan kepada Allah s.w.t, seperti Firmannya:



“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qur’an 5:2)



Nabi Muhammad s.a.w. dalam satu hadisnya mengingatkan kita tentang meniru atau menyerupai ajaran sesuatu kaum yang lain, sabdanya, “Barangsiapa menyerupai sesuatu kaum maka ia akan dibangkitkan bersama kaum itu” (riwayat Abu Daud). Maka dibimbangi jika ada di antara kita yang terlibat sama dengan penganut agama Kristian dalam menyambut Krismas, maka di akhirat nanti kita akan dibangkitkan bersama dengan mereka, wa nau’zubillah.



Kita sewajibnya mengelakan diri terbabit dalam perayaan kebatilan ini sebagaimana Firman Allah s.w.t:



“…dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Qur’an 25:72)



Ada di antara ulama yang menafsirkan “perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah” termasuklah menyambut perayan-perayaan yang batil, tafsiran ini termasuklah tafsiran Mujaahid dan Ibnu Seereen. Jadi sudah jelas kepada kita apa itu sambutan hari Krismas. Semoga kita bersama-sama dapat menyampaikan perkara ini kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat agar dapat terhindar dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah lagi merosakkan akidah ini.